01 Januari 2011

Saatnya yang muda jadi pelopor

Oleh: H. Andika Hazrumy
Ketua Karang Taruna Prov. Banten
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx "Berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku guncangkan dunia." Pernyataan presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno, itu masih pas dengan peringatan sumpah pemuda tahun ini. Pemuda masih menjadi tumpuan bangsa untuk arus perubahan. Tepat 82 tahun yang lalu, Sumpah Pemuda diucapkan dan digelorakan oleh Muhammad Yamin dan para pemuda dari pelosok negeri ini. Mereka mengikrarkan diri dengan sasanti "Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa yaitu Indonesia."

Sumpah Pemuda, dalam konteks pra-kemerdekaan 1945, mempunyai makna nasionalisme pemuda dalam upaya mendefinisikan berbagai macam suku, bangsa dan bahasa ke dalam bingkai ke-indonesiaan menjadi the real Indonesia sebagai sebuah nation state yang berdaulat, lepas dari cengkeraman kolonialisme. Basis misinya adalah mewujudkan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat, Jadi, dapat dikatakan bahwa pemuda saat itu merupakan pelopor atas cikal bakal berdirinya Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara kesatuan.

Selanjutnya, dalam konteks pasca-kemerdekaan, Sumpah Pemuda lebih dimaknai secara normatif sebagai peran pemuda dalam mengisi kemerdekaannya. Dialektika pergerakan pemuda pada masa ini juga melahirkan kepeloporan yang mewarnai berbagai dinamika sejarah pergerakan bangsa dan negara. Sehingga peranannya dapat dilihat dalam setiap derap sejarah pemuda di setiap angkatan, mulai angkatan 1966, angkatan 1974, dan angkatan 1998. Meski setiap angkatan mempunyai misinya masing-masing, namun referensi sejarah mencatat dan mengatakan bahwa kepeloporan pemuda pada masanya tidak dapat dipungkiri, pemuda masa ini menjadi tonggak sejarah perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik lagi.

Pertanyaannya kemudian, sejauhmana peran kepeloporan pemuda dalam era reformasi sekarang ini? Menurut saya, secara normatif dan berdasarkan UU No 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, generasi muda atau yang dikatakan pemuda di era reformasi ini (Pasca 1998) adalah mereka yang berumur sampai dengan 30 tahun, atau yang lahir sekitar tahun 1980-an. Namun, dalam hal ini saya lebih memaknainya bahwa pemuda itu merupakan pribadi atau kelompok masyarakat yang mempunyai jiwa dan spirit kepemudaan. Sebab, dalam konteks membangun bangsa dan negara tidak hanya menjadi kewajiban kaum mudanya saja namun semua komponen bangsa.

Era reformasi lebih diidentikkan dengan era otonomi daerah, karena itu saya ingin memaknai kepeloporan pemuda dalam era reformasi ini menjadi kepeloporan pemuda dan kiprahnya dalam era otonomi daerah atau dalam membangun daerahnya dengan tetap memperhatikan visi keindonesiaannya.

Berikut ini pokok-pokok pikiran saya mengenai perlunya kepeloporan pemuda dalam era otonomi daerah, pertama bahwa pemuda diharapkan sebagai pengawal dan sekaligus subyek atas pembangunan di daerah dengan pemberdayaan semua potensi yang dimilikinya di setiap bidang profesi.

Kedua pemuda khususnya mahasiswa diharapkan dapat mengedepankan rasionalitas (akal sehat) dan kesantunan dalam berpikir, dan bertindak atas segala hal yang yang menjadi panggilan jiwanya, mengingat hingga saat ini terjadi defisit atas rasionalitas dan kesantunan di mana-mana. Pemuda kini tampaknya lebih mengedepankan dimensi emosionalitasnya dalam memandang setiap persoalan, daripada rasionalitas, intelektualitas dan kesantunannya. Karena dengan rasionalitas, pemuda akan berpikir lebih jernih, obyektif dan bertanggung jawab meski disampaikan secara kritis;

Lalu ketiga, pemuda diharapkan menjadi perekat atas setiap dinamika sosial, politik dan ekonomi yang terjadi di masyarakat. Sehingga jika ada persoalan di masyarakat, ia bukan merupakan bagian dari masalah melainkan menjadi solusi. Pemuda diharapkan dalam konteks ini, menjadi agent of social change yang konstruktif dan bermartabat.

Keempat, mendorong perguruan tinggi yang ada di Banten menjadi katalisator bagi para pemuda khususnya mahasiswa dan civitas akademika lainnya dalam menumbuhkembangkan budaya akademis dan intelektual yang unggul dan bermartabat. Karena itu, perlunya digagas dan dikaji secara mendalam kemitraan pembangunan daerah berbasis pada triumvirat ABG (Academic, Bussiness, dan Government). Di negara maju mana pun, model ini diberlakukan. Ketiga unsur tersebut, bila digabungkan akan menjadi power steering bagi pelaksanaan pembangunan terutama di Banten.

Dan terakhir kelima, mendorong perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah daerah untuk membuat program-program yang merangsang dan menumbuhkembangkan kepeloporan pemuda di semua bidang. Kepemudaan hendaknya dijadikan mainstreeming dalam setiap program pembangunan daerah. Sebagai contoh, program kepeloporan pemuda di bidang inovasi teknologi, lingkungan hidup, keagamaan, kepemimpinan, kewirausahaan, kesehatan, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya. Selamat Hari Sumpah Pemuda. (*)

*H. Andika Hazrumy
- Ketua Karang Taruna Provinsi Banten;
- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan Banten;