09 November 2010

5 Relawan TAGANA gugur di Merapi

Taruna Siaga Bencana (TAGANA) tengah berkabung, 5 orang relawannya gugur saat melakukan tugas evakuasi di sekitar kawasan gunung Merapi. Komandan relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Andi Hanindito menjelaskan 5 relawan Tagana gugur saat bertugas di Gunung Merapi.

Slamet Ngatiran relawan pertama yang tewas saat Merapi pertama kali meletus 26 Oktober 2010. Slamet relawan terlatih warga asli Glagaharjo, Cangkringan Sleman dan masih kerabat dengan mbah Maridjan. Sementara 4 relawan Tagana lainnya gugur saat terjadi letusan merapi pada Kamis 4 November 2010.

Dua jenazah, Ariatno dan Samiyo, kini telah dievakuasi ke Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta. Sedangkan Dua jenazah lainnya, Supriyadi dan Supriyanto, belum berhasil dievakuasi dari Dusun Glagaharjo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Tim mengalami kendala untuk mengangkat jenazah korban karena tertimbun material Gunung Merapi sedalam 3 meter. Menurut Andi, timnya hampir merasa apatis untuk menembus ke lokasi di mana jenazah kedua relawan itu diperkirakan berada, yakni sekitar 12-14 km dari puncak Merapi. Selain karena dalam, material yang disemburkan gunung itu hingga kini masih sangat panas.

Andi menceritakan, pada saat terjadi letusan terdahsyat Merapi pada Kamis 4 November 2010 hingga Jumat keesokan harinya, keempat relawan itu berjaga di dusunnya, Glagaharjo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Lokasi itu berjarak sekitar 12 Km dari puncak Merapi. Supriyadi dan Supriyanto menjaga gudang logistik bantuan. Sementara Ariatno dan Samiyo berjaga di tempat lain, namun masih berada di wilayah Glagaharjo.

Ketika situasi Merapi makin memburuk, baik Supriyadi maupun Supriyanto, melihat sejumlah pengungsi yang terancam nyawanya oleh awan panas atau wedhus gembel. Sebelum wedhus gembel turun menggulung, menurut Andi, Supriyadi dan Supriyanto sempat menelepon posko yang berada di bawah. Komandan lapangan saat itu meminta agar keduanya segera turun dan menyelamatkan diri. Namun, mereka memilih untuk menjemput para pengungsi.

Begitu pula dengan Ariatno dan Samiyo. Kedua relawan ini tetap bertahan untuk mengevakuasi warga meski wedhus gembel kian dekat. Mereka sebenarnya menunggu kendaraan susulan yang akan melarikannya ke tempat aman, namun terlambat. Menurut Andi, keempat relawan yang meninggal itu adalah orang-orang terakhir yang berada di zona bahaya ketika Merapi meletus. Sebagai warga setempat, mereka mempunyai tingkat emosional dan rasa pengorbanan yang besar bagi para warga Glagaharjo.

Atas jasa mereka dalam upaya menyelamatkan pengungsi, Kementerian Sosial (Kemensos) akan memberikan penghargaan bagi relawan. "Kami akan beri santunan yang layak kepada ahli waris atau keluarganya dan penghargaan khusus atas jasanya," kata Mensos Salim Segaf Al Jufri dalam siaran pers, Minggu (7/10/2010).

Salim juga menyampaikan bela sungkawa serta penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Tagana yang gugur dalam tugas. "Mereka telah berjuang menyelamatkan warga pengungsi bersama prajurit TNI, Tim SAR dan relawan lain dengan bertaruh nyawa," imbuhnya. Kepada anggota Tagana yang lain, Salim berharap agar tetap bersemangat dan berhati-hati di lokasi berbahaya. "Terutama menjaga komunikasi dan memakai perlengkapan yang memadai," tuturnya.

Sementara Ketua Karang Taruna Provinsi Banten, Andika Hazrumy yang juga Koordinator TAGANA Prov. Banten menyampaikan belasungkawa atas gugurnya para pahlawan kebencanaan itu. “atas nama pengurus Karang Taruna dan seluruh anggota Tagana Banten saya menyampaikan keprihatinan dan dukacita yang sedalam-dalamnya” tutur Andika.

“gugurnya lima orang relawan Tagana di Merapi merupakan bukti bahwa Tagana memiliki tanggungjawab yang berat dan beresiko tinggi dalam mengemban tugasnya” lanjut Andika. “semoga amal ibadah mereka diterima disisi Allah dan pengorbanan yang telah mereka berikan dapat menginspirasi seluruh relawan Tagana dalam memaknai nilai-nilai keikhlasan” tutup Andika.

Sebagaimana diketahui, Taruna Siaga Bencana (TAGANA) adalah satuan tugas penanggulangan bencana yang berbasis masyarakat. Organisasi yang dibentuk oleh Departemen Sosial  pada tahun 2003 ini pada awalnya diperuntukkan bagi anggota Karang Taruna yang peduli pada kebencanaan. Dalam perkembangannya Tagana juga mengakomodir elemen-elemen lain seperti RAPI, Menwa, kelompok pencinta alam, Dll. Keberadaannya kemudian diatur dalam Permensos Nomor 82/HUK/2006 tentang Taruna Siaga Bencana.

*diolah dari berbagai sumber