05 Oktober 2010

Karang Taruna: Yang Muncul dari yang terpinggirkan

Karang taruna dan kegiatan pemuda bagaikan fenomena telur dan ayam. Mana yang lahir lebih dulu? Karang Taruna yang melahirkan berbagai kegiatan pemuda, atau kegiatan pemuda-lah yang kemudian diambil untuk menjadi bagian dari Karang Taruna? Membicarakan fenomena ini memang tak pernah ada habisnya. Yang jelas secara leksikal, kata”Karang Taruna” berarti “Perkumpulan Pemuda.” Jadi setiap perkumpulan pemuda dan kegiatan kepemudaan bisa dikatakan sebuah Karang Taruna.

Kegiatan warisan orde baru itu keberadaannya memang kembang kempis. Menurut Camat Mojoroto, Mandung Sulaksono,sudah 5 tahun terakhir ini Karang Taruna belum bisa bangkit.”Hidup setiap ada lomba, kemudian mati lagi,” kata Mandung saat memberi sambutan pada Seleksi Lapangan Karang Taruna Berprestasi 2007 di Kelurahan Gayam (6/6).

Berdasarkan seleksi lapangan itu, Karang Taruna Damarwulan Kelurahan Gayam tampil paling depan mengalahkan Karang Taruna dari Betet dan Jagalan. Terlepas dari segala formalitas ini, pemuda Gayam memang mengagumkan. Dari sekumpulan pemuda yang dulunya sering mendapat predikat miring, Damarwulan punya nilai lebih. Beberapa kelompok Karang Taruna Damarwulan di Kelurahan Gayam lahir benar-benar dari aspirasi pemuda, bukan bentukan pemerintah.

Salah satunya adalah kelompok “RAHMATIKA.” Kelompok rebana dari RW 8 ini terbentuk sejak 20 Mei 2003. Anehnya, inisiatif berdirinya kelompok yang bermarkas besar di masjid ini muncul dari gerombolan pemuda pengangguran yang hanya suka nyanyi-nyanyi di pos ronda sambil mabuk-mabukan bahkan ada yang ngoplo. Berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi mereka sendiri yang hanya dianggap sebagai sampah masyarakat, dari mereka yang lebih tua berinisiatif mengadakan perkumpulan untuk memberdayakan diri. Namun mereka sadar bahwa kemampuan mereka terbatas karena hanya lulusan SD, SMP, dan drop out-an. Mereka tidak punya keahlian lain selain nyanyi dan gitar.

Akan tetapi, hal itu tidak menyurutkan semangat mereka, kemudian diputuskan untuk belajar musik. Perjuangan panjang dimulai. Untuk belajar musik rebana, kelompok ini harus rela ngonthel (bersepeda, red) jauh-jauh ke Kelompok Noto Projo Warujayeng. Beberapa waktu kemudian, lelahnya ngonthel terbayarkan dengan beberapa kali diajak pentas.

Karena musik rebana, mau tidak mau lagu-lagu yang dibawakan beraliran rohani, sehingga dampaknya mengarah pada pengenalan agama lebih jauh. Penggilan manggung pun mulai berdatangan. “Tapi saat itu alatnya masih nyewa, dan itu tidak murah. Akhirnya, mau tidak mau kami harus berupaya memiliki alat sendiri, “ kata Arifin, ketua kelompok Rahmatika saat tim seleksi Karang Taruna tandang ke markas besarnya.

Akhirnya muncul ide untuk mengumpulkan uang dari menjual roso’an atau sampah rumah tangga. Tak merasa malu sedikitpun, Rahmatika memanfaatkan media pengajian dan hajatan untuk meminta sampah pada warga. Anggota kelompokpun dibagi untuk mengumpulkan sampah rumah tangga yang bisa didaur ulang seminnggu sekali, baru kemudian dijual.

Kebutuhan akan alat yang lengkap terus memaksa Rahmatika mengumpulkan uang. Lagi-lagi mereka meminta izin warga untuk meminjamkan lahannya yang kurang terpakai untuk ditanami pisang. Hasilnya, berupa daun dan buah dijual ke pasar hingga satu per satu alat terpenuhi.

Sampai saat ini, undangan manggung kian berdatangan. Satu minggu bisa 4 x tampil. Namun, menurut Arifin, kelompoknya belum mematok tarif tertentu untuk 1 x tampil. Tidak mau berhenti sampai disitu, kelompok yang juga mendirikan TPQ Rahmatika ini mulai mengembangkan usaha. Dengan semangat yang luar biasa, mulai 2 MEi 2007, Rahmatika mulai belajar beternak belut. Mereka sadar tidak hanya sampah rumah tangga saja yang dapat didaur ulang, tapi sampah masyarakatpun dapat didaur ulang.

Kelompok lain yang tak kalah menarik milik Karang Taruna Damarwulan adalah Organisasi Pemuda Ngembak Etan (OPEN). Kelompok ini punya peran besar terhadap peningkatan pengatahuan. Organisasi asal RW 1 ini mempunyai gubug perpustakaan yang mereka beri nama PUSTAKALOKA OPEN. Di gubug yang terbuat dari bambu itu disediakan berbagai macam bacaan, mulai buku pelajaran,komik, Koran sampai majalah. Tak heran, jika Pustakaloka Open menjadi tempat nongkrong faforit anak-anak dan remaja dukuh Ngembak Etan selain juga dimanfaatkan untuk tempat perkumpulan warga (Balai RW). (and)

sumber: www.kotakediri.go.id