26 Juli 2008

Pedoman Penyelenggaraan


PEDOMAN UMUM
PENYELENGGARAAN PROGRAM
KIRAB OBOR NUSANTARA

PENDAHULUAN

Memperingati SATU ABAD KEBANGKITAN NASIONAL 1908-2008, OBOR NUSANTARA telah menjadi bagian penting dari agenda peringatan secara nasional yang didukung oleh pemerintah dan diprakarsai oleh masyarakat sendiri melalui komponen-komponen penting yang selama ini keberadaan dan kiprahnya tidak diragukan lagi. Obor Nusantara mengusung tema sentral untuk mengajak segenap pemangku kepentingan bangsa ini BERSATU MEMBANGUN NEGERI. Tema ini diterjemahkan dalam 2 visi strategis yang sangat dibutuhkan negeri tercinta dewasa ini, yakni Kebangsaan dan Kepedulian.

Dengan visi kebangsaan kegiatan ini mengimplementasikannya melalui aktivitas-aktivitas yang merangsang, meningkatkan dan menguatkan semangat nasionalisme untuk bukan hanya sekedar bangkit tapi ikut berbuat dan berkarya lebih baik lagi. Maka diagendakanlah kegiatan kirab obor sebagai penggelora semangatnya disamping kegiatan-kegiatan seperti peluncuran nada sambung nasional lagu-lagu perjuangan, pembuatan hymne kebangkitan, penganugerahan PIN 100 Tahun Kebangkitan Nasional dan Dialog Kebangkitan. Sementara visi Kepedulian kegiatan ini mengimplementasikannya melalui aktivitas-aktivitas yang membangun dan menguatkan semangat solidaritas, menolong dan berupaya meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat. Karena itu diagendakan kegiatan bhakti sosial, revitalisasi lembaga pemberdayaan masyarakat, penghijauan dan sanitasi lingkungan.

Obor Nusantara dengan berbagai varian kegiatan dengan tujuan membangun dan menguatkan semangat kebangsaan dan semangat kepedulian, sudah menjadi komitmen kuat bersama unsur pendukungnya. Hal tersebut menjadi modal penting untuk membangun kembali nilai-nilai kebangsaan dan kepedulian kita sebagai sesama anak bangsa yang sempat menjadi pertanyaan besar dalam kondisi krisis dan dimensi global saat ini. Karena itulah, agar pada tingkat implementasi program kegiatan ini dapat betul-betul memenuhi harapan pendukung dan masyarakat bangsa sebagai sasaran kegiatan, maka sangat diperlukan suatu pedoman yang secara umum mengatur dan menjadi acuan dari program kegiatan ini hingga ke hal yang bersifat teknis. Pedoman Umum ini diharapkan bukan hanya dapat menjadi pedoman bagi pelaksana kegiatan dilapangan tetapi juga dapat menjadi bahan informasi bagi masyarakat, pemerintah pusat dan daerah serta para pengambil keputusan.

UMUM
  1. Nama Program adalah ”OBOR NUSANTARA”, yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL 1908-2008.
  2. Program ini mengambil tema besar ”BERSATU MEMBANGUN NEGERI: Menggugah Semangat Kebangsaan, Menggugat Semangat Kepedulian”. Dengan tema ini diharapkan semangat kebangsaan kita semua dapat tergelorakan dan meningkat untuk diaplikasikan pada watak nasionalisme yang kuat, demikian pula semangat kepedulian kita kepada sesama komponen bangsa lebih menguat dan berkembang membentuk karakter kesetiakawanan sosial yang khas.
  3. Secara umum program dikemas dalam format Kirab/Pawai Obor Nusantara yang diharapkan memberi penerang baik dalam makna konotatif maupun denotatif, dengan rangkaian berbagai kegiatan yang bernuansa kebangsaan (hymne kebangkitan, dialog, penghargaan PIN kebangkitan nasional dan nada sambung nasional lagu-lagu perjuangan) serta kegiatan yang bernuansa kepedulian (revitalisasi, bhakti sosial, penghijauan dan sanitasi).
  4. Obor Nusantara merupakan salah satu agenda/program/kegiatan yang diselenggarakan atas prakarsa komponen masyarakat bangsa yang diakui dan didukung penuh oleh pemerintah serta menjadi bagian dari penyelenggaraan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional secara nasional.
  5. Sebagai program kegiatan yang diprakarsai oleh masyarakat, Obor Nusantara di usung oleh Yayasan Obor Nusantara yang didukung oleh unsur-unsur masyarakat yang terdiri dari: KARANG TARUNA, TARUNA SIAGA BENCANA (TAGANA), KORPRI, Komunitas BIKE TO WORK, Komunitas Pemerhati Kesehatan dan Keselamatan (TRMS), PATRIOT NASIONAL (PATRON), Forum Komunikasi Purna Praja (FKPP), Yayasan Tanah Airku dan Komunitas Pemerhati Komunikasi (Tridas Widyantara). Pada pelaksanaannya, Obor Nusantara juga dapat melibatkan seluruh komponen bangsa, termasuk potensi-potensi lokal di daerah masing-masing.

TUJUAN DAN SASARAN

A. Tujuan
  1. Mempererat tali silahturahmi anak bangsa dalam meningkatkan rasa Persatuan dan Kesatuan Bangsa;
  2. Membangkitkan Semangat Kebangsaan;
  3. Membangun kembali Semangat Kepedulian dan gotong-royong;
  4. Menghargai dan menghidupkan kembali nilai kearifan budaya local;
  5. Mengobarkan dan menggelorakan semangat menjaga keutuhan NKRI;
  6. Meningkatkan rasa cinta tanah air Indonesia;
  7. Membangkitkan nilai perjuangan para pahlawan untuk negeri tercinta;
  8. Membangkitkan kesadaran anak bangsa, untuk bangkit mewujudkan cita-cita Proklamasi NKRI melalui semboyan: Merah darah dan putih tulangku, karya serta karsaku bagi negeriku ”Indonesia”.

B. Sasaran
  1. Memperkokoh jiwa kebangsaan dan kepedulian sosial sebagai upaya menjaga keutuhan NKRI;
  2. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional serta menghidupkan, menjaga dan melestarikan kearifan budaya lokal dalam menghadapi era persaingan global.

JENIS-JENIS KEGIATAN

A. Kirab Obor Nusantara

Umum
  1. Kirab Obor Nusantara diawali dengan kegiatan: Launching/peluncuran Obor Nusantara di Jakarta dengan konsep acara sebagai berikut: a). Pawai Obor; b). Penyerahan Obor Merah kepada Pasukan Pembawa Obor dari Sabang dan Obor Putih kepada Pasukan Pembawa Obor dari Merauke; c). Doa Lintas Agama; d). Hiburan Kebangsaan; e). Pengambilan Api Obor Nusantara di Sabang dan Merauke secara bersamaan.
  2. Kirab Obor Nusantara dilakukan oleh pasukan yang berkonvoi dengan menempatkan/membawa obor diatas sepeda yang telah disiapkan dengan perlakuan sesuai dengan kondisi perjalanan.
  3. Kirab Obor Nusantara direncanakan akan melewati seluruh provinsi di tanah air dengan jumlah 207 kabupaten/kota yang rencananya akan dilewati.
  4. Serah terima obor akan dilakukan antarprovinsi dengan upacara yang tertibnya diatur lebih lanjut, sedangkan untuk antarkabupaten/kota yang dilewati dapat dilakukan serah terima sesuai kebutuhan dengan standar tatacara yang sederhana.
  5. Pada setiap titik persinggahan obor nusantara, Gubernur/Bupati/ Walikota diskenariokan melakukan penandatanganan pada Piagam Perjalanan Obor Nusantara yang akan menjadi bagian dari buku ”Rakyat Bicara dan Harapan-harapannya”

Formasi Kirab Obor Nusantara
  1. Formasi Kirab Lengkap, yang dirancang dan dilaksanakan untuk seremonial dan formalisasi di dalam kota dan untuk agenda serah terima. Formasi ini dirancang untuk menempuh jarak perjalanan dalam kota dalam jarak sejauh-jauhnya 2 KM.
  2. Formasi Kirab Perjalanan, yang dirancang dan dilaksanakan untuk kelancaran perjalanan yang tidak bermuatan seremonial dan formalisasi. Formasi ini dirancang untuk menempuh jarak perjalanan antarkota.
Untuk Formasi Kirab Lengkap terdiri dari:

- FORAIDER YANG TERDIRI DARI:
  • Kepolisian;
  • Dinas Perhubungan;
  • Mobil RTU.
- TIM 20 (PEMBAWA BENDERA MERAH PUTIH: 20 ORANG)
- TIM 5 YANG TERDIRI DARI:
  • Pembawa Obor;
  • Pembawa Lambang Garuda dan Teks Pancasila;
  • Pembawa Bendera Yayasan Obor Nusantara;
  • Pembawa Panji Kabupaten / Kota.
- TIM 8 YANG TERDIRI DARI:
  • Pembawa Panji Karang Taruna;
  • Pembawa Pataka/Bendera TAGANA;
  • Pembawa Pataka/Bendera KORPRI;
  • Pembawa Pataka/Bendera Komunitas Bike To Work;
  • Pembawa Pataka/Bendera FKPP;
  • Pembawa Pataka/Bendera PATRON;
  • Pembawa Pataka/Bendera TRIDAS WIDYANTARA;
  • Pembawa Pataka/Bendera TRMS;
  • Pembawa Pataka/Bendera Yayasan Tanah Airku.
- KELOMPOK PENDUKUNG LOKAL, YANG DAPAT TERDIRI DARI:
  • Pembawa Pataka/Bendera Organisasi-organisasi Sosial
  • Pembawa Pataka/Bendera Organisasi-organisai Kemasyarakatan
  • Pembawa Pataka/Bendera Organisasi-organisasi Kepemudaan
  • Pembawa Pataka/Bendera Organisasi Kedaerahan
  • Pembawa Pataka/Bendera Organisasi-organisasi Olahraga
  • Pembawa Pataka/Bendera Organisasi/lembaga lain (lokal)
- TIM PENGIRING
  • RTU
  • Mobil Ambulance
  • Mobil Panitia

Untuk Formasi Kirab Perjalanan terdiri dari:

- FORAIDER YANG TERDIRI DARI:
  • Kepolisian/Dinas Perhubungan
  • Mobil RTU
- MOBIL PEMBAWA BENDERA MERAH PUTIH
- MOBIL PEMBAWA:
  • Obor
  • Lambang Garuda dan Teks Pancasila
  • Bendera Logo 100 Tahun Kebangkitan Nasional
  • Bendera Yayasan Obor Nusantara
  • Panji Karang Taruna
- MOBIL PEMBAWA:
  • Pataka/Bendera TAGANA
  • Pataka/Bendera KORPRI
  • Pataka/Bendera Komunitas Bike To Work
  • Pataka/Bendera FKPP
  • Pataka/Bendera PATRON
  • Pataka/Bendera TRIDAS WIDYANTARA
  • Pataka/Bendera TRMS
  • Pataka/Bendera Yayasan Tanah Airku
- MOBIL PENGIRING
  • RTU
  • Mobil Ambulance
  • Mobil Panitia
Mekanisme Perjalanan Kirab dan Serah Terima
  1. Obor Merah dan Obor Putih disulut bersamaan (pada tanggal yang sama) di Sabang dan Merauke untuk kemudian memulai perjalanan sesuai rutenya (Barat dan Timur)
  2. Perjalanan Obor Nusantara disesuaikan dengan waktu setiap harinya mulai dari pukul 08.00 s/d 21.00, setelah itu akan beristirahat (obor disemayamkan) sesuai dengan tempat tibanya:
  3. Jika Obor belum sampai etape antarprovinsi, maka dapat beristirahat malam di pendopo kabupaten, home stay atau mendirikan tenda sesuai dengan situasi, kondisi dan kemampuan daerah yang paling memungkinkan;
  4. Jika Obor susah sampai etape sesuai provinsi yang dituju, maka peristirahatan rombongan dan persemayaman obor dapat diatur di pendopo gubernuran atau tempat yang direkomendasikan oleh pemerintah provinsi yang bersangkutan.
  5. Keamanan perjalanan kirab obor nusantara dikoordinasikan dengan oleh panitia daerah dengan kepolisian daerah/resort/sektor setempat.
Perjalanan Obor dilaksanakan dengan 2 (dua) cara yakni:

a) Pawai dan Gelar Pasukan, yakni perjalanan obor dalam kota dengan kondisi:
  • mengerahkan semua unsur utama dan komponen lokal;
  • berjalan kaki menurut kelompok pasukannya;
  • panjang perjalanan sekurang-kurangnya 2 Km atau disesuaikan dengan medan kota yang bersangkutan;
  • dapat dimeriahkan oleh iringan kesenian tradisional setempat dalam penyambuan, pelepasan maupun pengiringannya;
  • akomodasi selama perjalanan ini dapat difasilitasi oleh pemerintah setempat.

b) Konvoi Obor, yakni perjalanan obor antar kota dengan kondisi:
  • hanya diikuti oleh unsur utama;
  • menggunakan kendaraan sesuai dengan peruntukannya;
  • panjang dan kondisi perjalanan tidak memungkinkan dilalui dengan berjlaan kaki atau bersepeda;
  • akomodsi selama perjalanan ini difasilitsi oleh panitia nasional atau juga oleh pemerintah setempat dan masyarakat yang simpati.
Mekanisme Serah Terima
  1. Serah terima hanya dilakukan per etape perjalanan antar provinsi;
  2. Tempat serah terima ditentukan oleh provinsi penerima dengan ketentuan prioritas di: a). Kantor Gubernur atau Pendopo Gubernuran; b). Batas provinsi; c). Tempat lain yang disepakati dan memungkinkan;
  3. Setiap penyelenggaraan serah terima pada prinsipnya menjadi tanggung-jawab provinsi yang menerima, sehingga unsur komponen masyarakat yang dikerahkan berasal dari provinsi penerima, diluar dari komponen/kelompok utama pembawa obor;
  4. Provinsi yang menyerahkan sekurang-kurangnya harus menyertakan rombongan/kelompok sebanyak 5 (lima) orang yang terdiri dari: Pejabat Pemerintah Daerah, Ketua Panitia Daerah, Koordinator Wilayah, Bidang Route Lokal dan Bidang Formasi Master;
  5. Apabila acara serah terima (antarprovinsi) dilakukan pada siang pagi atau siang hari, maka rombongan kirab dapat langsung melanjutkan perjalanan kirab kecuali ada acara lain seperti penyambutan dan penjamuan;
  6. Apabila acara serah terima (antarprovinsi) dilakukan pada malam hari yang tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan, maka obor disemayamkan ditempat yang telah ditentukan dan rombongan inti/utam pusat dan daerah mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh paniti daerah kemudian beristirahat.
Tata Upacara Serah Terima

a). Tata Upacara Penerimaan:
  • Persiapan Pasukan oleh Pemimpin Upacara.
  • Pembina Upacara Tiba ditempat Upacara.
  • Laporan Pemimpin Upacara kepada Pembina Upacara.
  • Pembacaan Pesan Presiden RI oleh Pembina Upacara/Panitia Nasional.
  • Penyerahan Obor kepada Pimpinan Daerah.
  • Penandatanganan Prasasti/Piagam 100 Tahun Kebangkitan Nasional oleh Pemimpin Daerah (Pembina Upacara).
  • Penandatanganan Berita Acara Serah Terima
  • Sambutan penerimaan oleh Pembina Upacara (Kepala Daerah/ Pimpinan Daerah)
  • Pembacaan Do’a
  • Laporan Pemimpin Upacara kepada Pembina Upacara
  • Pembina Upacara meninggalkan tempat upacara
  • Persemayaman Obor
  • Selesai

b). Tata Upacara Pelepasan:
  • Persiapan Pasukan oleh Pemimpin Upacara
  • Pembina Upacara tiba ditempat upacara
  • Laporan Pemimpin Upacara kepada Pembina Upacara
  • Pelepasan Obor oleh Pembina Upacara ditandai oleh penyerahan Obor kepada Kepala Pasukan diteruskan kepada Pembawa Obor
  • Pengarahan singkat Pelepasan Obor oleh Pembina Upacara
  • Laporan Pemimpin Upacara kepada Pembina Upacara
  • Pembina Upacara meninggalkan tempat upacara
  • Selesai

Perlakuan dan Ketentuan Tambahan
  1. Untuk Persemayaman Obor dalam perjalanan, Obor, Bendera Merah Putih dan Pataka/Panji Pendukung dilakukan secara layak sekurang-kurangnya di wadah khusus dalam tenda yang dipersiapkan.
  2. Untuk Persemayaman Obor yang diserah-terimakan, Obor, Bendera Merah Putih dan Pataka/Panji Pendukung dilakukan di kantor Kepala Daerah setempat sesuai rencana/agenda yang disiapkan daerah.
  3. Penyerahan estafet obor dari wilayah Barat Pasukan Merah oleh Panitia lokal di Jakarta, di Jembatan Layang Pancoran, dan Obor Wilayah Timur kepada Pasukan Putih di Jembatan Layang Tomang – Jakarta, pada akhir bulan Agustus 2008 (waktu ditentukan kemudian) jam 07.45 WIB.
  4. Pembawa Obor Merah dan Putih kemudian bertemu di Jembatang Layang Semanggi, lalu keduanya bersama melangkah menuju Monumen Nasional, yang dijadwalkan tiba pukul 09.00 WIB.
  5. Penyambutan Obor di Jakarta dilakukan diantaranya dengan memainkan musik gendang yang berasal dari 33 provinsi. Selanjutnya sembari diiringi musik gendang, secara bersamaan Pembawa Obor Merah menyerahkan kepada Presiden RI dan Pembawa Obor Putih menyerahkan kepada Wakil Presiden RI.
  6. Puncak acara, Obor Merah dan Putih disulutkan kewadah OBOR NUSANTARA tepat pukul 09.00 WIB, dan direncanakan akan disulut dihalaman TUGU MONAS berhadapan dengan Istana Negara yang akan menyala terus menerus, sembari diiringi lagu: Dari Sabang sampai Merauke dan ditutup dengan lagu: SATU NUSA SATU BANGSA.

B. Bhakti Sosial

Umum
  1. Pelaksanaan bhakti sosial pada prinsipnya mengintegrasikan program-program sosial yang ada di daerah dengan yang dari pusat (Depkes, Dephut, dll);
  2. Kegiatan bhakti sosial yang dilaksanakan merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka Obor Nusantara 100 Tahun Kebangkitan Nasional, sehingga dapat dilaksanakan seminggu sebelum Obor melewati daerah yang bersangkutan, selama Obor melewati daerah yang bersangkutan atau seminggu setelah Obor melewati daerah yang bersangkutan;
  3. Dengan demikian jadwal pelaksanaannya mengikuti atau disesuaikan dengan rute dan schedule perjalanan Obor Nusantara.
Pengobatan Gratis
  • Kegiatan Operasi Katarak
  • Kegiatan Operasi Bibir Sumbing
  • Imunisasi
  • Pengobatan (pemeriksaan kesehatan) Umum
  • Penyuluhan Pencegahan dan Penyakit Diare
  • Penyuluhan Pencegahan Penyakit Flu Burung
  • Kegiatan Donor Darah
  • Penyuluhan Perbaikan Gizi Balita
  • Kerjasama program kegiatan dengan Departemen Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Ikatan Profesi Dokter dan PMI.
Penghijauan
  • Penanaman pohon diseluruh wilayah Indonesia dengan target 1 pohon dipekarangan setiap 1 rumah;
  • Target penanaman lainnya adalah Daerah Aliran Sungai (DAS), Jalan Protokol di provinsi dan kabupaten/kota, alun-laun/tempat rekreasi daerah sebagai Ruang Terbuka Hijau dan hutan/bukit/gunung tandus;
  • Kerjasama program kegiatan dengan Departemen Kehutanan RI, Departemen Pertanian RI, Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI, Dinas Kehutanan Provinsi/ Kabupaten/Kota dan LSM Lingkungan Hidup;Pembuatan Sumur Biopori di provinsi tertentu untu meningkatkan daerah resapan air hujan dan pendayagunaan serta pemanfaatan sampah organik.

Sanitasi Lingkungan
  • Kegiatan sanitasi lingkungan ditujukan untuk ketersediaan ari bersih, jamban dan sumur keluarga serta sumur tadah hujan. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh cakupan sanitasi Indonesia yang baru mencapai 58%.
  • Target kegiatan ini adalah provinsi/daerah-daerah tertentu yang menjadi prioritas.
  • Kerjasama program kegiatan dengan Departemen Kesehatan RI, Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Dinas/Instansi terkait di tingkat provinsi/kabupaten/kota.
B. Revitalisasi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
  • Program Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat serta membangun dan meningkatkan peran dan eksistensinya dalam rangka ikut menanggulangi permasalahan sosial dan meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat khususnya di desa/kelurahan, selain menguatkan jejaring kerjasama kemitraan antarlembaga pemberdayaan masyarakat;
  • Pembentukan Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) didesa/kelurahan sebanyak 5-10 orang sesuai Permendagri no. 7/2007 sebagai katalisator revitalisasi;
  • Sasaran revitalisasi adalah lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat sesuai dengan UU No. 32/2004, PP 72/2005 dan PP 73/2005, yakni: KARANG TARUNA, PKK, LPM dan lembaga-lembaga lokal yang menjadi prime mover pembangunan;
  • Langkah revitalisasi adalah: a). Pendataan; b). Analisis dan Penyajian; c). Publikasi dalam bentuk katalog/buku; d. Agenda Tindak Lanjut.
  • Kerjasama kegiatan dengan Ditjen PMD Depdagri RI, Ditjen Dayasos Depsos RI, Karang Taruna, PKK, Instansi/Dinas Sosial tingkat provinsi/kabupaten /kota dan Dinas/Instansi/Badan Pemberdayaan Masyarakat tingkat provinsi/kabupaten/kota.
C. Dialog ”Wajah Indonesia Saat Ini dan Masa Depan”
  • Dialog dilakukan untuk mensosialisasikan kebijakan pembangunan sembari menjaring informasi, aspirasi dan kebutuhan dasar masyarakat yang kurang di assessment untuk menjadi bahan perencanaan pengambilan kebijakan mendatang;
  • Dialog Nasional dilaksanakan oleh Panitia tingkat nasional dengan fokus pembahasan pada kebijakan skala nasional yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat sedangkan dialog di tingkat (ruang lingkup) provinsi dengan tempat yang disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing dilaksanakan oleh panitia daerah, mengambil tema-tema yang bersifat aktual untuk kebutuhan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat;
  • Dialog Nasional direncanakan akan diisi oleh narasumber yang terdiri dari Putera-puteri mantan Presiden dan Wakil Presiden, Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Anggota Legislatif, Yudikatif, Tokoh Masyarakat, LSM, Wartawan dan Pengusaha skala nasional;
  • Jadwal dialog diatur lebih lanjut secara tersendiri.

URAIAN TUGAS KEPANITIAAN OBOR NUSANTARA

A. Panitia Nasional
  1. Melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah pusat melalui departemen/instansi terkait;
  2. Menyusun perencanaan umum kegiatan;
  3. Mensosialisasikan dan mempublikasikan program kepada masyarakat secara luas;
  4. Mengontrol dan mengendalikan seluruh agenda program kegiatan secara nasional;
  5. Mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dan perjalanan kirab di daerah kepada Koordinator-koordinator wilayah yang merupakan/menjadi bagian dari panitia nasional di daerah/provinsi;
  6. Bertanggung-jawab terhadap perjalanan Kirab Obor Nusantara secara umum baik teknis maupun administratif;
  7. Membangun akses untuk kelancaran dan kemudahan pelaksanaan program kegiatan secara umum baik kepada pemerintah pusat, masyarakat pada umumnya maupun dunia usaha nasional;
  8. Memfasilitasi Korwil dan Panitia Daerah dengan Pemerintah Daerah melalui koordinasi dengan departemen/instansi terkait untuk kelancaran pelaksanaan program kegiatan.
B. Koordinator Wilayah
  1. Mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dibidang Rute, Bhakti Sosial, Dialog dan Revitalisasi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat;
  2. Melaksanakan dan mensukseskan seluruh rangkaian acara Obor Nusantara di daerah penugasannya;
  3. Memahami dan mengetahui Tata Cara pergantian pasukan (serah terima), upacara persemayaman perangkat serta upacara pelepasan dan penerimaan (start-finish);
  4. Melakukan koordinasi dan komunikasi dengan panitia daerah dan pemerintah daerah melalui dinas/instansi terkait di daerahnya masing-masing untuk kelancaran kegiatan;
  5. Menghimpun data-data yang terkait dengan: a) daftar pasukan/formasi; b) susunan Panitia Daerah; c) rute perjalanan Obor Nusantara dan acara-acaranya.
  6. Melakukan survey langsung didaerahnya guna menyiapkan: Rute perjalanan, acara dan logistik bersama-sama Panitia Daerah;
  7. Merencanakan penggalangan sumber daya manusia unuk menjadi staf lokal yang ditugaskan mendukung perjalanan kirab obor;
  8. Bersama-sama Panitia Daerah juga menyiapkan sarana dan prasarana penunjang kegiatan seperti: sarana transportasi, komunikasi, kesehatan dan keamanan.
  9. Memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan dari pelaksanaan Obor Nusantara dalam rangka 100 Tahun Kebangkitan Nasional;
  10. Melakukan komunikasi dan konsultasi kepada Panitia Pusat guna memperoleh penjelasan atas hambatan-hambatan atas pelaksanaan tugas di daerah;
  11. Mengikuti seluruh perjalanan rute Obor Nusantara dan hadir pada bentuk-bentuk acara yang berlangsung;
  12. Merekrut dan menyediakan staf lokal dengan jumlah sesuai kebutuhan dan ketentuan diatas;
  13. Menghimpun data tentang: a) naskah serah terima/piagam acara; b) dokumen-dokumen berita lainnya.
  14. Membuat laporan tertulis atas pelaksanaan kegiatan di daerah setelah pelaksanaan tugasnya.
Hal-hal yang harus diperhatikan:
  • kelengkapan administrasi (naskah/piagam), susunan acara dan dokumen lainnya;
  • sarana upacara, pelepasan-pelepasan dan persemayaman;
  • komposisi/urutan peserta (formasi) dan kelengkapannya (sepeda dan kendaraan);
  • menyanyikan lagu-lagu perjuangan atau yel-yel untuk memberikan semangat dan daya juang;
  • pertimbangan waktu dan kondisi, saat sholat atau kegiatan spiritual lainnya.
  • tempat penginapan anggota formasi Obor Nusantara, diprioritaskan dengan berkemah dan jika tidak memungkinkan dirumah-rumah penduduk setempat (home stay) dengan lokasi satu dengan yang lainnya tidak berjauhan;
  • diupayakan terwujud suasana kekeluargaan dengan penduduk setempat sehingga tercipta image/citra misi Obor Nusantara;
  • kehadiran rombongan formasi Obor Nusantara dilingkungan masyarakat setempat (penduduk), sedapat mungkin menghindari hal-hal yang menjadi beban penduduk setempat;
  • melakukan check up kesehatan kepada setiap anggota rombongan oleh dokter/tim kesehatan yang ada;
  • melakukan pemanasan/warming up/gerak badan pada setiap pagi hari untuk menjaga kondisi anggota rombongan.
  • melakukan pengecekan sejauh mana kesiapan acara, penceramah/moderator dan materi acara yang berkaitan dengan Obor Nusantara dan pembinaan generasi muda/Karang Taruna dan TAGANA pada khususnya;
  • tempat kegiatan yang memadai, sound system dan lain-lainnya;
  • spanduk kegiatan, dokumentasi, photo kegaitan dan informasi peliputan media massa dan resume/risalah;
  • kegiatan dialog disarankan tidak melampaui jam 22.00 agar cukup waktu untuk istirahat bagi anggota rombongan yang akan melanjutkan perjalanan;
  • bila acara dialog diselingi acara hiburan, disarankan menampilkan corak kebudayaan daerah dalam rangka meningkatkan citra dan apresiasi terhadap kebudayaan lokal.
  • hendaknya diperhatikan agar bentuk-bentuk kegiatan dapat memberikan kenangan yang berkesan bagi masyarakat;
  • melibatkan swadaya masyarakat;
  • melibatkan partisipasi generasi muda (Karang Taruna dan TAGANA);
  • kelengkapan bentuk acara Bhakti Sosial agar dipersiapkan dengan lebih baik dan terencana;
  • sedapat mungkin diliput oleh media massa;
C. Panitia Daerah
  1. Melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah daerah melalui dinas/instansi terkait;
  2. Menyusun perencanaan teknis kegiatan berdasarkan pedoman umum yang dikeluarkan oleh Panitia Nasional;
  3. Mensosialisasikan dan mempublikasikan program kepada masyarakat secara luas khususnya diwilayah kerjanya masing-masing;
  4. Mengontrol dan mengendalikan seluruh agenda program kegiatan didaerahnya masing-masing;
  5. Mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dan perjalanan kirab di daerahnya masing-masing bersama Kordinator Wilayah;
  6. Bertanggung-jawab mendukung perjalanan Kirab Obor Nusantara secara teknis;
  7. Membangun akses untuk kelancaran dan kemudahan pelaksanaan program kegiatan secara umum baik kepada pemerintah daerah, masyarakat maupun dunia usaha lokal;
  8. Memfasilitasi Korwil dengan Pemerintah Daerah melalui koordinasi dengan dinas/instansi terkait untuk kelancaran pelaksanaan program kegiatan.